Sabtu, 17 Maret 2012

Studi Analisis Vegetasi Makrofita Pada Sungai Drainase Jakabaring Palembang

Ghufron HAK1, Saleh HIDAYAT2, Aseptianova3,

1,2,3) Jurusan Biologi, FKIP, Universitas Muhammadiyah Palembang, Jl. Jendral A. Yani 13 Ulu. Palembang, Indonesia. E-mail:fkip_umpbiologi@yahoo.com

ABSTRAK. Hampir dari separuh luas kota Palembang terdiri atas rawa, dan sebagian besar dari rawa tersebut terletak di daerah Jakabaring Palembang. Seiring dengan pesatnya pembangunan terutama di daerah Jakabaring Palembang yang banyak menggunakan lahan rawa, menyebabkan keberadaan rawa yang berfungsi menyerap luapan air dan curah hujan menjadi hilang. Untuk mengendalikan luapan air dan curah diperlukan suatu jaringan Sungai Drainase yang muaranya dihubungkan langsung ke sungai Ogan. Makrofita air merupakan tumbuhan yang pertumbuhannya relatif cepat. Jika fungsi sungai drainase terganggu oleh kehadiran luas tutupan vegetasi makrofita yang mendominasi perairan sungai drainase Jakabaring, maka mengancam akan terhambatnya saluran drainase dan dapat menyebabkan banjir.

Kata kunci: kerapatan, kerimbunan, frekuensi, pola distribusi, makrofita, sungai drainase.
PENDAHULUAN

Kota Palembang mempunyai luas 400,16 km2 sebagian dari luas tersebut berupa rawa. Berdasarkan letak geografisnya kota Palembang berada berada di atas permukaan laut dengan ketinggian rata-rata 8 meter, berdasarkan kondisi tersebut kondisi kota Palembang rawan banjir (Yuliusman, 2009).

Menurut Sadat (2010) pembangunan rumah mewah dan gedung perkantoran membuat luas rawa di kota Palembang menyusut dari 22.000 hektare menjadi 7.300 hektare. Rawa sebenarnya adalah resapan untuk menanggulangi banjir yang harus dipertahankan. Jadi untuk mengantisipasi luapan air ketika musim hujan maka pemerintah kota Palembang harus membuat kolam retensi dan sungai buatan.

Menurut Iwan dalam Nurjanah (2008: 7) kota Palembang saat ini telah memiliki 18 kolam retensi. Saat ini pembangunan kota Palembang diarahkan ke Seberang Ulu, wilayah Seberang Ulu itu meliputi wilayah Jakabaring. Wilayah Jakabaring ini sebenarnya adalah rawa-rawa. Di wilayah Jakabaring sendiri sudah dibangun gedung olah raga Sriwijaya. Pada tahun 2010 ini sedang dibangun wilayah perkantoran pemerintah. Untuk mengatasi banjir maka wilayah Jakabaring dibangun sungai drainase.

Kualitas perairan merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan vegetasi makrofita untuk itu perlu pula dikaji tentangnya. Parameter fisika yang biasa digunakan untuk menentukan kualitas air meliputi cahaya, suhu, kecerahan dan kekeruhan (Effendi, 2003:50).

METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini menggunakan metode kuadrat. Menurut Syafei dan Taufiqurrahman (1994:43) metode kuadrat, bentuknya bisa berupa segi empat atau lingkaran yang menggambarkan luas area tertentu (kuadrat). Untuk menentukan area pencuplikan pada kelompok rumput, termasuk makrofita air cukup 2 x 2 meter pada setiap plot. Pada analisis vegetasi dalam penelitian ini parameter yang diamati adalah kerapatan relatif, kerimbunan relatif, frekuensi relatif dan indeks nilai penting.

Area pencuplikan sampel diambil dari hulu sungai, pertengahan dan hilir sungai di setiap daerah yang diharapkan dapat mewakili keadaan sungai yang sebenarnya lihat gambar1



Gambar 1. Peta Sungai Drainase Jakabaring
keterangan:
: Jalan Raya
: Sungai Drainase:
: Stasiun Sampel
: Jembatan

1) Kerapatan
Kerapatan adalah nilai rata-rata jumlah individu suatu spesies dibagi dalam luas daerah sampel (Fachrul, 2007:145). Rumus yang digunakan untuk menentukan kerapatan adalah:

Kerapatan Relatif (Kpr)

x 100%

2) Kerimbunan
Kerimbunan digunakan untuk menunjukkan daerah yang ditutupi oleh spesies tumbuhan. Rumus untuk menentukan kerimbunan adalah:


3) Frekuensi
Frekuensi ditentukan kerapatan jenis yang dijumpai pada seluruh areal sampel dibandigkan dengan seluruh atau total area sampel yang dibuat, biasanya dalam bentuk persen (Syafei dan Taufikurrahman, 1994:44). Adapun rumus yang digunakan untuk menentukan nilai frekuensi dari suatu spesies adalah:


4) Indeks Nilai Penting
Indeks Nilai penting didapat dengan menjumlahkan kerapatan relatif (Kpr), Kerimbunan relatif (Kbr), dan frekuensi relatif (Fr). Persamaannya adalah:
Np = Kpr + Kbr + Fr

5) Pola Distribusi (Penyebaran)
Menentukan Pola distribusi (Penyebaran) dengan menghitung harga variasi dengan rumus:
(Syafei, 1995:18)
Keterangan :
S : Variabel
X : Rata-rata individu setiap spesies persatuan luas
Xi : Jumlah individu plot ke-1
n : Jumlah plot yang diamati

Menentukan jumlah distribusi dari jenis tumbuhan, apakah menyebar secara acak, merata atau kelompok dengan cara:
• Jika S/X<1, berarti distribusinya acak. • Jika S/X>1, berarti distribusinya berkelompok
• Jika S/X=1, berarti distribusinya rata.
Jenis-jenis tumbuhan disusun berdasarkan urutan harga nilai penting yang biasanya dari harga besar-kecil (syafei dan Taufikurrahman, 1994:3).




HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Kerapatan Relatif
Data yang ditampilkan dalam histogram gambar 2. merupakan kerapatan relatif. Penentuan nilai kerapatan relatif dari 9 spesies yang ditemukan di SDJ. Nilai kerapatan relatif sembilan spesies makrofita pada SDJ dapat dilihat pada Gambar 2


Gambar 2 Kerapatan Relatif Makrofita di SDJ

Keterangan : A. Eichornia crassipes Solms., B. Ipomoea aquatica Forks., C. Nymphaea alba L., D. Ludwigia adcendens (L.) Kara., E. Cyperus rotundus L., F. Hydrilla verticillata (L.f.) Royle., G. Mimosa pudica L., H. Monochoria vaginalis (Burm.f.) Presl., I. Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott.

2. Nilai Kerimbunan Relatif
Data yang ditampilkan dalam histogram gambar 3 merupakan kerimbunan relatif. Penentuan nilai kerimbunan relatif dari 9 spesies yang ditemukan di SDJ.

Gambar 3 Kerimbunan Relatif Makrofita di SDJ
Keterangan : A. Eichornia crassipes Solms., B. Ipomoea aquatica Forks., C. Nymphaea alba L., D. Ludwigia adcendens (L.) Kara., E. Cyperus rotundus L., F. Hydrilla verticillata (L.f.) Royle., G. Mimosa pudica L., H. Monochoria vaginalis (Burm.f.) Presl., I. Xanthosoma sagittifolium (L) Schott.


3. Frekuensi Relatif
Data yang ditampilkan dalam histogram gambar 4 merupakan frekuensi relatif. Penentuan nilai frekuensi relatif dari 9 spesies yang ditemukan di SDJ. Nilai frekuensi relatif dari sembilan spesies makrofita pada SDJ dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4 Frekuensi Relatif Makrofita di SDJ

Keterangan : A. Eichornia crassipes Solms., B. Ipomoea aquatica Forks., C. Nymphaea alba L., D. Ludwigia adcendens (L.) Kara., E. Cyperus rotundus L., F. Hydrilla verticillata (L.f.) Royle., G. Mimosa pudica L., H. Monochoria vaginalis (Burm.f.) Presl., I. Xanthosoma sagittifolium (L) Schott.


4. Indeks Nilai Penting
Data yang ditampilkan dalam histogram gambar 4.3 merupakan indeks nilai penting. Penentuan indeks nilai penting dari 9 spesies yang ditemukan di SDJ. Nilai frekuensi relatif dari sembilan spesies makrofita pada SDJ dapat dilihat pada Gambar 4. 4

Gambar 5 Indeks Nilai Penting Makrofita di SDJ

Keterangan : A. Eichornia crassipes Solms., B. Ipomoea aquatica Forks., C. Nymphaea alba L., D. Ludwigia adcendens (L.) Kara., E. Cyperus rotundus L., F. Hydrilla verticillata (L.f.) Royle., G. Mimosa pudica L., H. Monochoria vaginalis (Burm.f.) Presl., I. Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott.

5. Pola Distribusi
Dari hasil analisis vegetasi terhadap kerapatan, kerimbunan dan frekuensi, maka didapat pola distribusi makrofita yang terdapat pada SDJ Palembang ditampilkan pada Tabel 4.1


Tabel 1. Pola Distribusi makrofita Pada Sungai Drainase Jakabaring Palembang

No Spesies Makrofita Nilai Variansi Pola Distribusi
1 Eichornia crassipes Solms. 3,77 Berkelompok
2 Ipomoea aquatica Forks. 0,61 Acak
3 Nymphaea alba L. 0,094 Acak
4 Ludwigia adcendens (L.) Kara. 2,16 Berkelompok
5 Cyperus rotundus L. 5 Berkelompok
6 Hydrilla verticillata (L.f.) Royle. 0,094 Acak
7 Mimosa pudica L. 0,94 Acak
8 Monochoria vaginalis (Burm.f.) Presl. 7,4 Berkelompok
9 Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott. 1,33 Berkelompok

(Sumber: Data Hasil Analisis Peneliti, 2010).


















Tabel 2 Data Jenis-Jenis Makrofita yang Terdapat di SDJ Palembang

No Jenis Makrofita Terdapat di plot
(Banyak Spesies) Jumlah spesies di tiap plot

1 Eichornia crassipes Solms. 5(53), 10(18) 68
2 Ipomoea aquatica Forks. 5(6), 16(3), 17(2) 11
3 Nymphaea alba L. 2(5), 6(3), 11(2), 16(7), 17(4), 18(8) 29
4 Ludwigia adcendens (L) Kara. 1(3), 4(4), 12(12), 15(20) 39
5 Cyperus rotundus L. 17 (90) 90
6 Hydrilla verticillata (L.f.) Royle. 2(3), 6(5), 16(6), 17(5), 18(10) 29
7 Mimosa pudica L. 1(7) , 3(3), 5(4), 11(3) 17
8 Monochoria vaginalis (Burm.f.) Presl. 1(10), 3(17), 4(20), 7(9), 8(4),
9(25), 10(19), 12(8), 14(6), 17(9) 134
9 Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott. 1(5),5(12),7(3),15(7),18(4) 24
Σ = 9 Spesies 441
(Sumber: Data Hasil Analisis Peneliti, 2010)



2. Hasil Analisis Parameter Fisika dan Kimia Perairan SDJ

Untuk tumbuh optimal, biota air membutuhkan lingkungan yang optimal pula. Kualitas air sangatlah berperan penting bagi pertumbuhan biota yang ada didalam dan disekitarnya. Kualitas air dapat diketahui dari beberapa parameternya yaitu karakteristik dan kimia air. Untuk mengetahui kondisi fisika dan kimia perairan sungai drainase Jakabaring dapat dilihat dari hasil pengujian dibeberapa stasiun yang dijadikan sebagai lokasi sampling. Untuk lebih jelas lagi dapat dilihat pada Gambar 5 sampai

Gambar 5 Histogram Kondisi Suhu Air Sugai Drainase Jakabaring Palembang


Pada histogram di atas dapat di ketehui bahwa kondisi suhu tertinggi yaitu 30,6 oC yaitu pada stasiun 8, dan kondisi suhu terendah yaitu 28,1 oC pada stasiun ke 1.


Gambar 6 Histogram Kondisi pH Air Sugai Drainase Jakabaring Palembang

Berdasarkan diagram di atas kondisi pH tertinggi terletak pada stasiun ke 6 dengan nilai 6, dan pH terendah nilainya adalah 5 terdapat pada stasiun 5, 7 dan 8.

Gambar 7 Histogram Kondisi Kedalaman Sungai Drainase Jakabaring Palembang

Berdasarkan gambar 7 di atas dapat dilihat kondisi sungai yang paling dalam adalah pada lokasi stasiun 1 dan yang paling kecil nilai kedalamannya adalah pada stasiun 9.

Gambar 8 Histogram Kondisi Kecerahan Sungai Drainase Jakabaring Palembang

Pada gambar 8 dapat dilihat bahwa nilai kecerahan pada SDJ yang paling tingggi adalah pada stasiun ke 8 dan yang paling rendah adalah pada stasiun ke 9.
Gambar 9 Histogram Kondisi Kekeruhan Sungai Drainase Jakabaring Palembang

Untuk nilai kekeruhan dapat dilihat kondisi sungai yang paling keruh adalah terdapat pada stasiun ke 9 dan kondisi kekeruhan yang rendah adalah pada stasiun ke 2.

Gambar 10 Histogram Kondisi Oksigen terlarut Sungai Drainase Jakabaring
Palembang

Berdasarkan gambar 10 diketahui bahwa kadungan oksigen terlarut nilai tertingginya terdapat pada stasiun ke 5 dan kondisi terendah terdapat pada stasiun ke 1.

Gambar 11 Histogram Kondisi COD Sungai Drainase Jakabaring Palembang

Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui nilai COD tertinggi terdapat pada stasiun ke 3 dan kondisi COD terendah terdapat pada stasiun ke 5.


Gambar 4.21 Histogram Kondisi Kecepatan Arus Sungai Drainase Jakabaring
Palembang.
Berdasarkan gambar 4.21 diatas dapat diketahui kecepatan arus tertinggi pada stasiun ke 2 dan dan kondisi terendah pada stasiun ke 9.

KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan, pengukuran dan analisis data yang telah dilakukan di sungai drainase Jakabaring Palembang, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Jenis makrofita yang ditemukan selama penelitian dibagi berdasarkan cara hidupnya adalah makrofita yang mengapung dipermukaan air contohnya; Eichornia crassipes Solms., Monochoria vaginalis (Burm.f.) Presl., makrofita yang seluruh tubuhnya didalam air contohnya; Hydrilla verticillata (L.f.) Royle., makrofita yang berakar di dasar dan sebagian tubuhnya mucul dipermukaan air contohnya; Nymphaea alba L., makrofita yang menyenangi air, hidup dipinggiran air contohnya; Ludwigia adcendens (L.) Kara., Ipomoea aquatica Forks dan Cyperus rotundus L.
2. Dominansi berdasarkan ideks nilai penting diperoleh hasil sebagai berikut yaitu spesies Monochoria vaginalis (Burm.f.) Presl. yang memiliki indeks nilai penting tertinggi yaitu sebesar 121,53% sedangkan indeks nilai penting terkecil yaitu spesies Ipomoea aquatica Forks. dengan indeks nilai penting 20,69%.
3. Kondisi fisika dan kimia air berdasarkan parameter yang diukur masih tergolong layak untuk dipakai.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian Strata 1 saya di Universitas Muhammadiyah Palembang tahun 2010. Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Dr. Saleh Hidayat, M.Si., dan Dra. Hj. Aseptianova, M.Pd., yang telah membantu dan membimbing dalam proses penyelesaian skripsi saya.

DAFTAR PUSTAKA


Alaerts, G dan Sri Sumesti Santika. Metoda Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional.

Demon, Andri. 2008. Kajian Penataan Jaringan Drainase Kawasan Di Jakabaring-Palembang Sumatera Selatan (Studi Kasus Kawasan Lahan Rendah Rawa Pasut).(Onine)http://otomasi.lib.itb.ac.id/home.phpmenulibrary&actiondetail&library diakses 15 Mei 2010.

Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air bagi pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Kanisius.

Keng, Hsuan. 1969. Malayan Seed Plants. Kuala Lumpur: University Of Malaya Press.

Syafei, Eden Surasana dan Taufikurrahman. 1994. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Yuliusman. 2009. “Palembang Krisis Rawa”. Sriwijaya Post, 27 April 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Album

Album
LDO